Minggu, 22 November 2015

LAMPU

PERBANDINGAN LAMPU LED, LAMPU BIASA DAN LED 1 MERK

Pengertian

Lampu LED atau kepanjangannya Light Emitting Diode adalah suatu lampu indikator dalam perangkat elektronika yang biasanya memiliki fungsi untuk menunjukkan status dari perangkat elektronika tersebut.

Misalnya pada sebuah komputer, terdapat lampu LED power dan LED indikator untuk processor, atau dalam monitor terdapat juga lampu LED power dan power saving.

Lampu LED terbuat dari plastik dan dioda semikonduktor yang dapat menyala apabila dialiri tegangan listrik rendah (sekitar 1.5 volt DC). Bermacam-macam warna dan bentuk dari lampu LED, disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsinya.

Lampu pijar adalah sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran arus listrik melalui filamen yang kemudian memanas dan menghasilkan cahaya. Kaca yang menyelubungi filamen panas tersebut menghalangi udara untuk berhubungan dengannya sehingga filamen tidak akan langsung rusak akibat teroksidasi.

Lampu Tl (Tubular Lamp) atau Lampu Neon Lampu listrik yang memanfaatkan gas NEON dan lapisan Fluorescent sebagai pemendar cahaya pada saat dialiri arus listrik.

Tabung lampu TL ini diisi oleh semacam gas yang pada saat elektrodanya mendapat tegangan tinggi gas ini akan terionisasi sehingga menyebabkan elektron-elektron pada gas tersebut bergerak dan memendarkan lapisan fluorescent pada lapisan tabung lampu TL.

PERBANDINGAN KONSUMSI LISTRIK LAMPU

Perbandingan umur lampu, kekuatan cahaya lampu dan konsumsi power (wikipedia)

Lampu Pijar
Halogen
CFL /Neon
LED (Generic)
LED (Philips)
LED (LEDNovation)
Power used (watts)
60
43
14
9.5
9.5
9.4
lumens (mean)
860
750
775
800
806
810
lumens/watt
14.3
17.4
55.4
84.2
84.8
86.2
Pemakaian dalam Jam
1,000
1,000
10,000
25,000
15,000
50,000
Umur pemakaian dalam tahun@ 6 jam/hari
0.5
0.5
4.6
>11.4
6.8
>22.8
Comparison based on 6 hours use per day (43,800 hours over 20 yrs)

Dari lampu LED 9 W sampai 4W. Hasilnya cukup menarik, konsumsi listrik lampu LED umumnya tidak banyak berbeda dengan angka label. Bandingkan dengan lampu Neon biasa vs Lampu LED akan terlihat berbeda. Lampu Neon mengkonsumsi listrik hampir 2 kali lebih banyak walau memberikan tingkat cahaya yang sama dari lampu LED. Untuk mengetahui berapa kekuatan cahaya lampu. Umumnya di setiap lampu diberikan label berapa cahaya yang dihasilkan oleh lampu dalam angka lumen.


Test lampu LED dan Tube CCFL

  •      Lampu LED Philips 9W pemakaian 10 bulan
  •      Lampu LED Osram 9W baru
  •      Lampu LED Osram 6W baru
  •      Lampu LED Osram 4W baru
  •      Lampu LED Unbrand 7W China pemakaian 10 bulan
  •      Lampu Philips CCFL 20W pemakaian 1 tahun+
  •      Lampu Panasonic CCFL 18W pemakaian 1 tahun+
  •      Lampu Shinyoku CCFL 20W 


Ratio label W adalah pemakaian power dari label dengan konsumsi litrik. Semakin besar persentase maka lampu semakin boros. Seperti lampu neon Tube Shinyoku tertulis 20W, tapi mengkonsumsi power sebenarnya 30W AC (150%)

  •      Hasil test diatas menunjukan konsumsi listrik lampu LED hampir mendekati label yang tertera dengan ratio 1.1 sampai 1.25. Misalnya lampu LED Osram tertulis label 9W hanya mengkonsumsi 10W listrik

  •      Kecuali lampu LED China dengan label 7W mengkonsumsi power diatas 50% dari label yang tertulis. Tetapi lampu LED China tanpa merek ini dirancang berbeda dengan auto voltage. Ketika voltase listrik turun dari 220 sampai ke 100V, lampu tetap menyala. Bentuknya lebih panjang dibanding lampu LED biasa.

  •     Lampu tabung Tube neon atau lampu TL sekarang menjadi lampu paling boros listrik dan konsumsi power diatas 40+% atau ratio 1.4 dari label yang tertulis. Bila lampu neon 20W di label, kemungkinan konsumsi listrik sebenarnya 28W atau lebih besar. Masing masing merek berbeda beda dalam konsumsi listrik.
Label Watt lampu LED adalah cahaya kekuatan lampu, bukan konsumsi power pada lampu sebenarnya. Efisien konversi energi dari AC ke DC melalui adaptor AC/DC ikut menentukan berapa besar konsumsi listrik sebenarnya. Masing masing lampu sudah di ukur berapa kekuatan cahaya - Lumen.

Angka LUX meter adalah kekuatan cahaya pada jatuhnya cahaya ke satu bidang.




Pengambilan cahaya pada jarak 80 cm dari sumber lampu. LUX tidak dijadikan ukuran untuk mengetahui kekuatan sebuah lampu. Hanya dijadikan angka patokan ketika cahaya jatuh untuk menerangi bidang tertentu (meter persegi) pada jarak tertentu dari sumber lampu.




Kesimpulan dari tes diatas, kualitas cahaya masing masing lampu berbeda beda. Bahkan dengan satu model dari satu merek, produk dijual bisa saja dari tahun ke tahun. Setiap produsen memiliki disain berbeda, entah menganti model lebih baik. Dan teknologi lampu LED dapat berubah.


Perbandingan antara lampu pijar, lampu neon dan lampu LED disajikan dalam grafik

Perbandingan lampu pijar – lampu neon -lampu LED

Cara membaca grafik di atas adalah sebagai berikut :

  •       Untuk menghasilkan pencahayaan 600 lumen: lampu pijar membutuhkan daya 60 watt, lampu neon membutuhkan 11 watt, lampu LED hanya membutuhkan 7 watt
  •       Tiap 1 watt daya listrik yang dikonsumsi: lampu pijar menghasilkan 10 lumen, lampu neon menghasilkan  51.8 lumen dan lampu LED menghasilkan 85,7 lumen.
Tabel ini akan menkomparasikan watt antara lampu pijar biasa, lampu neon, dan yang terbaru dan terhemat, sekaligus termahal, lampu LED.

Lumen
Lampu Pijar
Lampu Neon
Lampu LED
450
40 watt
9 watt
8 watt
800
60 watt
14 watt
13 watt
1100
75 watt
19 watt
17 watt
1600
100 watt
23 watt
20 watt
Efisiensi
-
75%
80%

KESIMPULAN

Dari berbagai test dan uji coba Lampu Pijar, Lampu Neon dan Lampu LED bahwa semakin berkembangnya teknologi terbarukan akan semakin efesien atau lebih hemat daya, akan tetapi semakin mahal juga harganya karena ilmu yang di terapkan pada teknologi tersebut bukan hanya karena bahan baku yang di gunakan tetapi penemuan atau ilmu yang di terapkan.

            Diketahui bahwa Lampu LED lah yang paling efesien dan memiliki cahaya yang terang dengan tingkat konsumsi yang lebih irit dari pada lampu lainnya dengan harga yang lebih mahal namun di janjikan lebih lama dalam pemakaian dan tidak cepat rusak pantas untuk di gunakan pada zaman sekarang ini.

Referensi



TURBO

Perbandingan Turbocharger 1 Tingkat dan 2 Tingkat

Turbocharger Pada prinsipnya supercharger dan turbocharger mempunyai tujuan yang sama, yaitu memperbesar jumlah udara yang masuk ke dalam silinder. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya motor tanpa memperbesar kapasitas motor tersebut. Ada perbedaan dalam proses kerja antara supercharger dan turbocharger, yaitu pada penggerak impeller turbin dimana pada supercharger impeller turbin digerakkan oleh gerakan mekanik yang ditransfer dari putaran poros engkol, sedangkan pada turbocharger memanfaatkan gas buang sebagai penggerak impeller turbin.

Sebuah motor diesel empat langkah yang bekerja dengan turbocharger tekanan isapnya lebih tinggi dari tekanan atmosfer sekitarnya. Hal ini diperoleh dengan jalan memaksa udara atmosfer masuk kedalam silinder selama langkah isap. Dengan cara mendinginkan udara bertekanan masuk ke dalam silinder turbocharger dengan aftercooler diharapkan bisa memperoleh tekanan efektif rata-rata yang lebih besar dengan mengurangi turunnya kerapatan udara akibat temperatur yang tinggi. Sehingga akan menghasilkan daya yang lebih besar dengan ukuran mesin yang sama.

Tujuan utama penggunaan turbocharger dengan aftercooler adalah untuk memperbesar daya motor (30-80 %), boleh dikatakan bahwa mesin diesel dengan turbocharger dapat bekerja lebih efisien, turbocharger mempunyai arti penting dalam usaha mengatasi kerugian daya yang disebabkan oleh berkurangnya kepadatan udara atmosfer di tempat tersebut.

Sistem turbocharger ini digunakkan untuk meningkatkan batas torsi mesin dan tekanan effektif rata-rata. Beberapa mesin tipe V dan inline menggunakan dua atau empat turbocharger dan aftercooler, masing-masing satu untuk pipa manifold buang.




Gambar 1. Konstruksi satu tingkat turbocharger Cummins Engine K38- C Family. Sumber: Basic Engine Diesel Cummins, PT. Altrak 1978.





Gambar 2. Konstruksi dua tingkat turbocharger Cummins Engine K38- C Family. Sumber: Basic Engine Diesel Cummins, PT. Altrak 1978.

Cara kerja turbocharger dua tingkat : Udara mengalir dari saringan udara ke rumah kompressor tingkat pertama (low pressure turbocharger), kemudian ke luar dari kompresor tingkat pertama dan masuk kompresor tingkat kedua. Setelah dikompres pada kompresor tingkat dua maka udara keluar melewati aftercooler menuju pada pipa manifold hisap silinder. Pada keadaan ini temperatur udara dikurangi sampai 2230 F (10600C) dan dengan tekanan berkisar 60,4 inHG (204,5 kPa). Gas buang hasil pembakaran memasuki pipa manifold tipe pulsa yang kemudian memasuki rumah turbin tingkat dua. Gas buang kemudian meninggalkan turbin tingkat dua dan memasuki turbin tingkat pertama yang akan menggerakkan roda turbin dengan sisa-sisa energi yang terkandung dalam gas buang. Kemudian gas ini dibuang melalui pipa saluran buang ke atmosfir.




Pada tabel 1 menunjukkan bahwa putaran engine yang dihasilkan sistem satu tingkat turbocharger lebih besar dibandingkan dengan engine sistem dua tingkat turbocharger (tabel 2). Dari perbedaan putaran engine tersebut dilakukan interpolasi untuk menyamakan parameter putaran sebagaimana dihasilkan pada table 3 berikut ini.
                           



Perhitungan Daya engine (Horse Power).


Gambar 3 Grafik Hasil Perhitungan Engine speed vs Horse power

 Pada gambar 3 di atas terlihat karakteristik horse power yang lebih baik dengan penggunaan aplikasi sistem dua tingkat turbocharger dibandingkan sistem satu tingkat turbocharger. Tren horse power meningkat seiring dengan naiknya beban (load) dan putaran pada engine.

Perhitungan Momen Puntir (Torque)




Gambar 4 Grafik Hasil Perhitungan Engine speed vs Torque

Dari gambar grafik 4 menunjukkan bahwa torque yang dihasilkan pada sistem dua tingkat turbocharger lebih baik dibandingkan dengan sistem satu tingkat turbocharger. Tren yang terlihat dari grafik torque meningkat sampai pada titik maksimum kemudian menurun. Semakin besar putaran engine tidak selalu menghasilkan torque yang maksimum. Dari hasil pengujian menunjukkan torque maksimum yang dihasilkan kedua sistem satu dan dua tingkat turbocharger terjadi pada putaran 1499.617 rpm. Pada sistem satu tingkat turbocharger menghasilkan nilai torque sebesar 2784,929 lb.ft. Sedangkan sistem dua tingkat turbocharger menghasilkan torque sebesar 3928,700 lb.ft.

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1.      Sistem dua tingkat turbocharger menghasilkan momen puntir (torque) dan daya (horse power) yang lebih baik dibandingkan dengan sistem satu tingkat turbocharger.

2.      Pada load 0% putaran 777.948 RPM, sistem dua tingkat menghasilkan daya sebesar 17.400 HP dan 2.685 HP pada sistem satu tingkat. Sedangkan momen puntir yang dihasilkan sistem dua tingkat sebesar 197.989 lb.ft dan 18.126 lb.ft pada sistem satu tingkat.

3.      Pada load 25% putaran 1500.301 RPM sistem dua tingkat menghasilkan daya sebesar 788.181 HP dan 387.282 HP pada sistem satu tingkat. Sedangkan momen puntir yang dihasilkan sistem dua tingkat sebesar 2834.240 lb.ft dan 1355.699 lb.ft pada sistem satu tingkat.

4.      Pada load 50% putaran 1501.633 RPM sistem dua tingkat menghasilkan daya sebesar 1046.822 HP dan 582.609 HP pada sistem satu tingkat. Sedangkan momen puntir yang dihasilkan sistem dua tingkat sebesar 3675.868 lb.ft dan 2037.647 lb.ft pada sistem satu tingkat.

5.      Pada load 75% putaran 1499.617 RPM sistem dua tingkat menghasilkan daya sebesar 1122.835 HP dan 795.205 HP pada sistem satu tingkat. Sedangkan momen puntir maksimal yang dihasilkan sistem dua tingkat sebesar 3928.700 lb.ft dan 2784.929 lb.ft pada sistem satu tingkat.

6.      Pada load 100% putaran 1801.267 RPM sistem dua tingkat menghasilkan daya maksimum sebesar 1331.325 HP dan 915.220 HP pada sistem satu tingkat. Momen puntir yang dihasilkan sistem dua tingkat sebesar 3883.171 lb.ft dan 2668.474 lb.ft pada sistem satu tingkat.


Rabu, 04 November 2015

PERBANDINGAN REM CAKRAM DAN REM TROMOL


Pengertian Rem Cakram Dan Rem Tromol

Sebelum kita mengetahui pengertian rem cakram dan rem tromol, sebaiknya kita mngetahui terlebih dahulu pengertian rem.

Rem adalah suatu peranti untuk memperlambat atau menghentikan gerakan roda, secara otomatis gerak kendaraan menjadi pelan. Energi kinetik yang hilang dari benda yang bergerak ini biasanya diubah menjadi panas karena gesekan.

Pada dasarnya ada 2 jenis rem yang umumnya digunakan pada motor yaitu :

Rem Cakram (Disk Brake)

Rem Cakram adalah rem yang bekerja atas dasar menjepit cakram (disk) yang dipasangkan pada roda kendaraan, pengereman untuk menjepit cakram digunakan caliper yang digerakkan oleh piston untuk mendorong sepatu rem (brake pads) ke cakram.

Rem Tromol (Drum Brake)

Rem tromol adalah rem yang bekerja atas dasar gesekan antara kampas rem dengan tromol (drum) yang ikut berputar dengan putaran roda kendaraan, sehingga diharapkan dapat mengurangi laju motor secara perlahan.

Berikut adalah gambar dari rem cakram dan rem tromol



Rem cakram (sebelah kiri) Dan rem tromol (sebelah kanan) Perbandingan Rem Cakram dan Rem Tromol

 Tabel perbandingan antara rem tromol dan rem cakram :

Rem Cakram (Disk Brake)
Rem Tromol (Drum Brake)
Tidak perlu menginjak rem terlalu keras karena dibantu oleh fluida (hidrolis) untuk menggerakkan piston yang mendorong kampas rem.
Lebih berat karena murni tenaga manual untuk menginjak rem.
Kampas tidak cepat panas (memiliki pelepasan panas yang lebih baik)
Lebih cepat panas (minim pembuangan panas)
Hasil pengereman dapat mencapai 100% (karena menggunakan prinsip “menjepit”)
Daya pengereman maksimal hanya sekitar 70% (karena kampas rem tidak seluruhnya menempel pada tromol roda)
Durabilitas lebih baik (pada jalan menurun)
Rem tidak pakem saat banjir (karena perangkat rem dipenuhi air)
Daya pengereman lebih bergantung kepada lebar cakram dan kekuatan piston
Permukaan gesek yang lebih lebar dengan kinerja pengereman yang lebih lembut
Konstruksinya dan sistem pengeremannya terbuka (kaliper berpotensi ditumpuki kotoran yang mengeras dan dapat merusak cakram)
Konstruksi tertutup (kampas tidak gampang rusak terkena kotoran dari luar)

Pengujian Rem Cakram dan Rem Tromol

1.    Waktu Berhenti Rem Cakram dan Rem Tromol





2.    Jarak Pengereman Berhenti Rem Cakram dan Rem Tromol



Kesimpulan

            Dari data dan penjelasan di atas di ketahui bahwa lebih bagus rem cakram di banding rem tromol dari segi pengeremannya namun tidak bisa di pungkiri bahwa pada kenyataanya rem cakram hanya mampu di aplikasikan pada kendaraan beban beban ringan atau kendaraan penumpang untuk kendaraan kendaraan berat lebih memakai rem tromol mungkin karena dari segi biaya dan ketahanannya terhadap panas, dan lain lain namun dari segi pengereman yang di hasilkan jelas rem cakram lebih bagus dari lebih tromol. Karena cepat berhenti ( pakem ).


REFERENSI